Wednesday, June 26, 2013

JAGUNG MANIS SIANG ITU

Siang ini saya bertemu dengan seorang bocah laki-laki yang meyadarkan saya tentang arti syukur. Banyak hal yang dapat mengingatkan kita tentang pentingnya bersyukur. Sengaja ataupun tidak disengaja, sadar atau tidak sadar banyak sekali hal yang mampir di otak kita. Suatu hal yang inspirasional sangat lah banyak kita dapatkan dari apa pun. Pada prinsipnya kehidupan itu punya asal usul yang akan mengalami proses entah endingnya akan bahagia atau pun tidak, yang dipelajari adalah prosesnya.
 
Hari ini saya ada jadwal bertemu dengan customer di kawasan puspitek yang berada di daerah Tangerang Selatan. Kawasan ini memang jauh dari hiroek pikoek kota, berada dalam satu area yang masih dipenuhi dengan banyak pohon yang membentuk kebun atau hutan sebagai pusat kawasan penelitian. Setelah menyelesaikan urusan dengan customer kemudian saya berpamitan, ketika membuka pintu keluar saya melihat ada seorang bocah laki-laki yang terbaring lesu sampai tertidur pulas. Tampak wajah kelelahan di raut wajahnya yang terpejam, kulitnya tampak kelam akibat paparan sinar matahari dan tampak keringat yang masih sedikit tersisa di dahinya. Siang ini memang terik dan tak sedikit pun awan melintas. Terlebih lagi Tangerang memang merupakan daerah yang cukup panas menurut saya, kondisi ini terjadi karena banyaknya kawasan industri di sekitar tangerang sehingga mempengaruhi lingkungan pemukiman.
 

Dengan sandal jepit yang masih terpakai dikakinya. Bocah ini cuek dengan kondisi sekitar. Kantor yang saya kunjungi memang sepi dan tenang, tak banyak orang yang berlalu lalang. Saya melihat disampingnya ada sebuah baskom berisi jagung rebus yang disusun dengan rapi dan di atasnya terdapat satu pack kantong kresek sebagai pembungkus jagung bagi pembeli. Sambil mengambil sepatu dirak yang tersedia diluar gedung saya coba memperhatikan bocah ini.  

Saya mencoba menghampiri dan berminat untuk membeli jagung tersebut. Itung-itung untuk camilan sore ini. Saya mencoba memanggilnya dan ternyata bocah tersebut langsung terbangun dengan raut wajah yang masih lesu. Saya bertanya, "Dik, jagungnya manis tidak?", bocah itu menjawab singkat, " manis mas". Akhirnya saya memilih dan membeli 2 buah jagung. Diambilnya tas kresek untuk membungkus jagung itu dan saya bayarkan 6.000 untuk 2 buah jagung itu. "Saya kembali bertanya, sudah pulang sekolah dik". Kemudian si Bocah menjawab, "iya sudah mas, langsung jualan jagung mas, bantu ibu".  

Saya cukup tertegun melihat kenyataan di depan saya. Apa yang pernah saya lihat di telivisi ternyata saya dapati di kehidupan saya. Seringkali saya melihat program telivisi yang menyangkan tentang kehidupan yang jauh dari kata sejahtera. Banyak anak-anak yang harus bekerja di masa kecilnya demi memperjuangkan untuk bertahan hidup, terkadang bangku sekolah pun tak dibisa mereka rasakan. Dan salah satu hal yang saya temui ini ada di pinggiran metropolitan yang jauh dari kata kekurangan. Ironis memang, terkadang kita melihat kesenjangan yang sangat jauh di depan mata kita.


Ya...fakta ini telah menyadarkan saya. Bagaimana arti syukur itu sendiri. Maka tak sepantasnya kita mengeluh, tak sepantasnya kita mudah menyerah dan putus asa. Saya merasa bersyukur karena Allah banyak mengingatkan saya dengan banyak cara yang indah. Apa pun yang saya kerjakan saat ini, saya harus coba tekuni dan optimalkan sebaik mungkin. Dengan harapan saya bisa meraihnya untuk diri saya dan orang lain. Amin

Thursday, June 6, 2013

ngilusensi : FENOMENA KOPI

Kopi semakin diminati. Beragam kopi instan muncul dengan berbagai macam pilihan rasa. Sekarang tinggal bagaimnan selera Anda, silakan pilih :)

Monday, June 3, 2013

Menikmati Hidangan ala Keraton Jogjakarta

Hari beranjak siang dan perut mulai keroncongan. Saya dan teman sudah puas mengitari Taman Sari, sudah puas juga narsis-narsis an. Mengabadikan diri dengan background bangunan tua di Taman Sari. Kami memutuskan untuk keluar lewat pasar ngasem. Aktivitas pasar ngasem saat ini hanya untuk berjualan kebutuhan pokok pangan seperti beras, buah dan sayuran. Namun di seberang pasar masih ada beberapa kios yang berjualan burung dan hewan peliharaan lainnya seperti ikan hias dan kucing. Sebelumnya pasar ngasem memang digunakan sebagai pasar burung namun untuk saat ini sudah direlokasi di selatan Jogja dengan tempat yang lebih luas dan memadai.

Dari pasar ngasem kami berjalan ke arah kanan pasar. Jalan tampak ramai dengan lalu lalang kendaraan beradu dengan pengayuh sepeda, becak, dan andong. Hilir mudik dan suara bel berdering dari becak atau lonceng dari kuda yang menarik andong menjadi warna tersendiri. Berjalan sebentar kami menemui petunjuk bertuliskan Bale Raos  yang mengarah masuk ke komplek kraton. Kami mencoba untuk masuk, ada sekitar 50 meter untuk masuk ke dalam. Di depan gerbang ada sebuah pendopo yang dipagari dan terdapat sebuah lampu kota khas jogja di setiap sudut pendopo. Kemudian di sebuah sudut halaman terdapat lonceng. Saya kurang tahu fungsi dari lonceng itu sendiri, namun di deket lonceng tersebut ada sebuah pos yang di jaga oleh abdi-abdi dalem kraton. Di sebelah pos tersebut ada gerbang yang ditutup dengan ornamen kepala naga di sisi kanan dan kiri.
Bagian halaman depan Bale Raos
 
Namun dari sekian bangunan yang terbuka adalah gerbang dengan tulisan Bale Raos. Ya resto ini terletak di area Kagungan Dalem Kemagangan yang merupakan akses paling dekat untuk masuk ke Induk Kraton ( Area Kedaton ).

Masuk gerbang kami langsung disambut oleh kandang besar di sisi kanan dan kiri, di dalam terdapat burung perkutut. Burung ini merupakan burung khas jawa yang punya suara merdu. Resto ininmemiliki tiga bangunan utama yakni dua pendopo untuk tempat makan dan satu pendopo lagi sebagai galeri untuk produk batik dan kerajinan.
 

Nah saatnya makannnn. Ada menu-menu menarik yang bisa dipilih yakni salah satunya ada menu kesukaan sultan seperti bebek suwar suwir. Makanan ini adalah kesukaan Sri Sultan Hamengkubuwono ke X. Saya mencoba untuk memilih menu sup timlo. Isinya ada rolade, jamur yang dipadu dengan irisan daging ayam serta ada tambahan seafood dengan cita rasa yang lembut dan menghangatkan. Untuk menu minuman anda bisa mencoba minuman secang, beras kencur dan beragam minuman yang lain.
Soup timlo dipadu dengan minuman secang
 Di sisi bagian tepi pendopo terdapat sebuah tulisan-tulisan yang merupakan kesan-kesan dari pengunjung mengenai tempat ini. Ornamen-ornamen jawa yang menjadi dekorasi dan iringan musik gending jawa membuat kami serasa dibawa ke era jaman keraton kala itu. 

Bagi anda yang suka dengan wisata kuliner, maka jangan lewatkan tempat ini sebagai salah satu tujuan anda jika anda sedang berkunjung ke Jogja.